Ar-Razzaq (Pemberi Nafkah/ Rezeki), Sifat Ilahi dan Krisis Ekonomi Global sekarang ini

Bismillahirrahmanirrahiim

Terjemahan Summary of Friday Sermon yg disampaikan Khalifatul Masih V, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba, Imam Jama’at Muslim Ahmadiyyah tanggal 31 Oktober 2008

The Attribute of Razzaq (The Provider) and the present global Economic Crisis


Ar-Razzaq (Pemberi Nafkah/ Rezeki), Sifat Ilahi dan Krisis Ekonomi Global sekarang ini

Huzur (aba) membaca ayat-ayat ini setelahnya Surah Al Fatihah dan membukan khutbah hari Jum’at ini dengan mengingatkan kita bahwa Allah itu adalah  Razzaq  yakni Pemberi Nafkah. Dia itulah Yang Membuat harta kekayaan itu bertambah banyak atau berkurang. Seorang Mukmin sejati tidak pernah merasa disusahkan dengan adanya turun dan naik dalam hal rezeki ini; pada kenyataannya itulah sumbernya kemajuan dalam hal keimanannya bilamana Tuhan itu me-manifestasikan sifat-Nya dengan karunia berkah daripada-Nya.

“Apakah mereka tidak melihat, bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan menyempitkan-nya bagi siapa yang dikendaki-Nya? Sesungguhnya dalam yang demkian itu ada Tanda-tanda bagi kaum yang beriman. Maka berikanlah kepada kaum kerabat haknya dan orang miskin dan orang musafir. Yang demikian itu paling baik bagi orang-orang yang menginginkan keridhaan Allah, dan itulah orang-orang yang memperoleh kebahagiaan. Dan apa yang kamu berikan untuk memperoleh riba supaya bertambah banyak pada harta manusia, padahal harta itu tidak bertambah banyak di sisi Allah; tetapi apa-apa yang kamu berikan sebagai Zakat dengan menginginkan keridhaan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapat berlipat ganda. Allah Yang telah menciptakan kamu, kemudian membei rezeki kepadamu, kemudian Dia mematikan kamu, kemudian Dia menghidupkan kamu. Adakah dari antara tuhan-tuhan sekutumu itu, yang dapat berbuat  sesuatu seperti hal itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi daripada apa yang mereka sekutukan.” (Surah Ar-Ruum  (30:38-41)

Sekarang ini Krisis Keuangan telah melanda seluruh dunia. Semua bangsa-bangsa, bangsa yang maju dan yang masih berkembang semua sama-sama terjerat pada pada jaringan yang kusut ini. Beberapa Negara yang tadinya sudah menikmati kondisi ekonomi yang kuat, sedemikian rupa sehingga mereka merasa yakin dapat menguasai dunia karena mereka memiliki teknologi yang paling maju (sains, makanan, senjata, obat-obatan) di mana bangsa-bangsa lainnya akan terus dan selamanya bergantung kepada mereka untuk mempertahankan kehidupannya itu, sekarang Negara yang kuat ini melihat ekonomi mereka yang morat-marit di depan mata kepala mereka sendiri. Kebenaran dari perkara ini adalah bahwa ke-ekonomian mereka ini didasarkan atas politik yang rentan, yang sudah koleps dan yang menyebabkan krisis ekonomi global. Pengawas hakikinya hanyalah Tuhan, tetapi bangsa-bangsa yang superpower ini gagal untuk menyadari pada fakta ini.

Solusi yang mereka sodorkan untuk menyelamatkan keadaan ekonomi mereka itu tidak akan dapat bertahan lama, tidak tangguh. Solusi yang benar, terletak hanya pada mencari kedekatan kepada Tuhan dan dengan mengikuti ajaran-Nya. Sayangnya, bangsa-bangsa Muslim juga ikut terlibat dalam praktek serupa, bukannya mereka itu mengikuti petunjuk yang dituliskan di dalam Kitab Suci Alqur-aan dan bangsa-bangsa ini tidak memiliki perasaan bersalah ataupun rasa malu. Pemimpin-pemimpin dari Negara-negeri ini sungguh-sungguh sangat mementingkan diri sendiri dan hanya tertarik pada pengisian rekening bank mereka saja.   Negara-negara Timur Tengah (bangsa-bangsa penghasil minyak yang besar) me-manej pembangunan infrastructure yang paling modern untuk diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menggunakan sumber daya mereka sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan, yakni untuk menolong bangsa-bangsa Islam yang lebih miskin. Malahan, mereka meng-investasikan keuntungan mereka dan kelebihan kekayaan mereka itu di Negara-negara Barat agar mereka dapat mengumpulkan uang bunganya pada simpanan deposito mereka. Di lain pihak, mereka mendirikan perbankan dengan system Islam untuk keperluan pamer di Negara-negara mereka sendiri, yang pada kenyataannya hanyalah merupakan label dengan selaput gula manis yang diberikan pada system riba yang sama dengan tidak mengikuti ajaran Alqur-aan..

Allah, Yang Pemberi nafkah/rezeki mengingatkan kepada orang-orang Mukmin untuk membelanjakan kepada keluarga dekat mereka, kepada orang-orang miskin, kepada orang-orang musafir untuk meraih ridha Allah dan kesejahteraan rohani dan materielnya juga. Seorang Mukmin hakiki tidak hanya  mengeluar- kan kata-kata kosong di mulut saja, tetapi ia adalah orang yang memiliki keimanan yang teguh kepada Tuhan, Tuhan Yang menyedia-kan semua yang diperlukannya, dan ia pun, dari apa yang ia peroleh itu membelanjakannya sesuai dengan keinginan Tuhan. Dalam perkara ini, kita haruslah ingat bahwa seorang Muslim adalah saudara dari Muslim lainnya. Demikian pula, bangsa-bangsa Islam itu ada ikatan kewajiban untuk menolong bangsa-bangsa Islam lainnya yang tidak mampu, dan janganlah menanganggap pertolongan ini sebagai sedekah, tetapi adalah untuk pemenuhan kewajiban agama mereka. Bila bangsa Islam yang kaya raya memenuhi kewajiban ini, bukannya meng-investasi-kan kekayaannya di Negara-negara Barat untuk memperoleh uang bunga, maka mereka akan dapat meraih ridha Ilahi; tetapi mereka gagal mengamal-kannya sehingga mereka sekarang menderita dengan akibat buruknya dari krisis ekonomi global.

Huzur (aba) kemudian menjelaskan dengan kata-kata yang sederhana akar dari penyebab krisis ekonomi ini, dengan merujuk pada kenyataannya bahwa institusi perkreditan di Negara-negara Barat itu sebenarnya menggunakan dana yang di-simpan oleh nasabah mereka yang kaya-raya dan kemudian menawarkan uang ini sebagai pinjaman kepada orang-orang yang ingin membeli rumah dan keperluan pribadinya. Uang ini jarang sekali dipinjamkan untuk proyek-proyek yang productif, yang sebenarnya dapat membuat ke-ekonomiannya lebih kuat dengan men-ciptakan lebih banyak sumber daya. Uang pinjaman ini dikeluarkan dengan syarat-syarat yang mudah (seperti down payment yang kecil, dan dalam beberapa kasus dengan 0% deposit). Peminjam tidak ambil perhatian terhadap jumlah uang yang ia harus bayar dengan bunganya selama waktu kontrak tersebut. Dengan jumlah penghasilannya yang terbatas, di mana ia juga harus memenuhi keperluan rumah-tangganya bersamaan dengan pembayaran utangnya, maka ia mendapatkan dirinya dalam jurang utangnya yang semakin dalam, yang dalam beberapa kejadian membuat dia tidak mungkin lagi untuk membayar utangnya. Bilamana pembayaran dari nasabah itu terhenti maka bank-nya pun menghentikan kreditnya karena dananya sudah tidak tersedia lagi.

Maka hasilnya adalah krisis ekonomi global. Negeri mana pun yang menyatakan bahwa mereka tidak terkena oleh krisis ini (seperti yang dinyatakan oleh beberapa Negara-negara Timur Tengah) mereka itu membuat pernyataan bohong belaka, pertama-tama karena investasi mereka di luar negeri itu berkurang nilainya dan yang keduanya karena sumber daya alam yang dijadikan andalan mereka, seperti minyak, juga nilainya turun dengan drastisnya.. Sebuah artikel baru-baru ini berjudul “Sea of debt” menyatakan bahwa per-ekonomian Amerika Serikat sudah jatuh ke jurang yang dalam, sehingga penyelamatannya yang mudah tidaklah mungkin. Pada kenyataannya, seluruh dunia sedang berhadapan dengan keadaan situasi yang sama. Di Amerika, penggunaan kartu credit yang sangat melimpah telah merusak orang-orang terlibat dengan kecerobohan dalam pembelanjaan mereka. Sekarang karena dana itu sudah tidak tersedia lagi maka dibuat pengetatan oleh perusahaan yang mengeluarkan kartu creditnya, orang-orang terpaksa menahan dirinya untuk berbelanja. Penjualan mobil jatuh sampai titik penjualan terendah dan perjalanan dengan pesawat terbang menurun. Ini menyebabkan penurunan konsumsi BBM dan yang menyebabkan jatuhnya harga minyak mentah. Tambahan lagi, orang-orang itu lebih sedikit lagi mengerluarkan uangnya seperti untuk hiburan pribadi, yang lagi-lagi menyebabkan meningkatnya depresi (yakni kesehatan mental yang membahayakan).

Oleh karena itu Allah berfirman bahwa mereka yang menggunakan riba sebagai salah bentuk penghasilan adalah serupa dengan orang gila yang kerasukan Syaitan (Al Baqarah 2:276)

“Orang-orang yang makan riba tidak berdiri melainkan seperti berdiri orang yang syaitan merasuknya dengan penyakit gila. Hal demikian adalah karena mereka berkata, “Sesungguhnya jual-beli itu serupa riba;” padahal Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.  Maka siapa yang kepadanya telah sampai peringatan dari Tuhan-nya dan berhenti dari pelanggaran itu, maka untuknyalah apa yang diterimanya di masa lalu; dan urusannnya terserah kepada Allah. Dan barangsiapa kembali lagi makan riba, maka mereka adalah penghuni Api, yang mereka akan tinggal lama di dalamnya.”

Di tempat lainnya, Allah telah menyatakan bahwa riba itu adalah “haram”. Menggunakan uang riba dapat menyebabkan seseorang jatuh pada sebuah lingkaran syaitan, yang membuat orang itu sangat sulit untuk dapat melepaskan diri dari kemelut ini. Huzur (aba) menceriterakan satu lelucon dalam perkara ini: “Jika tetangga saya kehilangan pekerjaannya, yang demikian namanya recession. Jika saya kehilangan pekerjaan saya, itulah depression.”  Lelucon ini hanya merujuk pada situasi global yang sedang morat-marit, di mana ribu-ribuan orang telah kehilangan pekerjaannya. Huzur (aba) mengingatkan dengan kata-kata yang keras, mengatakan bahwa jika ada sedikit saja cercah yang tinggal pada kalian, meninggalkanlah penggunaan uang riba. Melainkan, investasikanlah dalam perdagangan yang diizinkan secara Islam, dan menyarankan agar bangsa-bangsa Islam harus memberi contoh di dalam hal ini.

Huzur (aba) kemudian memberikan contoh negara-negara seperti Pakistan dan bangsa-bangsa Afrika lainnya, di mana para pemimpin negara-negaranya itu sangat korup dan tidak loyal kepada negaranya, yang menambah-nambah minyak pada api ini. Bangsa-bangsa ini hanya dapat hidup dengan uang pinjaman dari Negara-negara yang lebih kaya, tetapi tidak punya jalan bagaimana caranya agar utang ini dapat terbayar. Negara-negara ini sebenarnya diberkati dengan  sumber daya alam, tetapi sudah menjadi praktek yang memalukan untuk lagi-lagi meminta-minta dana lagi. Kenyataannya dari perkara ini ialah bahwa mereka itu telah melupakan ajaran dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang dapat menyebabkan azab Tuhan yang lebih besar lagi. Huzur (aba) mengatakan bahwa system riba/ uang bunga itu telah membuat jurang yang lebih besar lagi antara orang kaya dan orang-orang yang miskin, tetapi system dari Islam, yaitu system Zakat menciptakan kerukunan di antara para anggota masyarakat.. Huzur (aba) menasihatkan agar setiap orang itu, terutamanya orang-orang Muslim harus menghentikan diri dari melakukan pinjaman, hal ini akan dapat menjauhkan krisis ekonomi yang dapat berulang kembali pada setiap beberapa tahun.

Dalam ayat-ayat yang dibaca pada awal khutbah ini, Huzur (aba) mengingat bahwa Allah itu tidak hanya menciptakan kita tetapi juga menyediakan nafkah untuk mahluk ciptaan-Nya, dengan syarat bahwa kami mengikuti perintah-perintah-Nya. Ke-tidak-stabilan dan ke-putus-asaan serta perasaan tidak lama lagi akan terjadinya perang yang ada di dunia ini sebagai akibat dari kekayaan dunia ini hanyalah berputar-putar di antara orang-orang yang kaya yang jumlahnya tidak banyak sedangkan orang-orang yang tidak mampu hanya memandanginya saja dari jauh, tidak pernah mendapatkan bagiannya yang terjamin bagi mereka itu. Penyebab lainnya hancurnya kedamaian dunia ini juga berasal pada kenyataannya bahwa bangsa-bangsa yang lebih kaya itu selalu mengincar sumber daya alam dari Negara-negara yang belum maju untuk digunakan bagi kepentingan dirinya sendiri. Tradisi Islam mengutuk keras hal ini. Huzur (aba) mengatakan bahwa dunia harus mengerti peraturan dan ketentuan emas yang berikut ini untuk dapat menghentikan krisis ekonomi yang demikian itu:

1. Belajarlah untuk tetap berada dalam batas kemampuan sendiri, yaitu pada masing-masing perorangan individu dan pada tingkat nasional. Puaskanlah hati dengan apa yang kalian dapat peroleh dengan mudah dan janganlah silau dan terpesona dengan rumah-rumah dan mobil yang besar dengan  memaksakan diri menggunakan fasilitas pinjaman kredit.

2. Berhentilah dari uang bunga atau riba.

3. Negara-negara kaya harus menghindarkan diri dari usaha untuk menguasai dan mengendalikan sumber daya alam dari Negara-negara lainnya. Negara-negara yang kurang-mampu harus memiliki kepercayaan pada diri sendiri bahwa sumber daya yang mereka miliki hanyalah untuk kepentingan negeri mereka  sendiri, walaupun jika ada campur-tangan international.

4. Para pemimpin bangsa haruslah setia dan patrotik terhadap Negara mereka.

5. Hak-hak dan kewajiban bagi oang-orang miskin harus dipenuhi.

Aturan dan ketentuan ini adalah didasarkan atas ajaran Islam, oleh karena itu bahwa Islam-lah yang dapat menyajikan solusi yang paling tepat terhadap  krisis yang dihadapi oleh dunia dewasa ini. Huzur (aba) mengatakan bahwa ketakwaan itu merupakan keharusan jika kalian ingin mendapat kesejahteraan. Tidak akan ada keselamatan jika kita tidak menaruh perhatian pada Firman Tuhan dan mempercayai kepada Imam zaman ini. Huzur (aba) membacakan tulisan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di mana beliau mengingatkan kita untuk selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa bahwa Tuhan telah membukakan kepada kita cahaya nur yang amat sangat kita perlukan untuk keselamatan kami dewasa ini dan di zaman ini. Huzur (aba) mendoakan semoga Allah Taala membimbing dunia ini pada jalan yang lurus yang benar dan memberikan kemampuan lepada mereka semua untuk dapat mengamalkan ajaran Islam yang hakiki, Aamiinn. (Penterjemah: PPSi / Mersela,  28-11-2008)

Komentar bertahan »

Mubarak Ramadan Pertama Di Abad Kedua Khilafat

Bismillahirrahmanirrahiim

Terjemahan Summary of Friday Sermon yg disampaikan Khalifatul Masih V, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba, Imam Jama’at Muslim Ahmadiyyah 5 September 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK.

Excellence of the holy month of Ramadan

Mubarak Ramadan Pertama Di Abad Kedua Khilafat

Huzur membacakan ayat 184 hingga 187 Surah Al Baqarah,

yang artinya,”Hai orang-orang yang  beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.  Yaitu dalam beberapa hari yang ditentukan. Maka barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari itu pada hari-hari lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Barangsiapa dengan kerelaan mengerjakan kebajikan, maka itu yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Bulan Ramadhan itu bulan yang didalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu barangsiapa di antaramu hadir di bulan ini, maka hendaknya ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak itu pada hari lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaknya kamu mencukupkan bilangannya dan hendaknya kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”

Huzur kemudian menyampaikan Khutbah mengenai keistimewaan bulan suci Ramadan. Huzur bersabda, pada beberapa hari ini dengan karunia Allah Swt kita telah mengalami kembali bulan puasa Ramadan yang berberkat yang bersifat wajib untuk meningkatkan ketaqwaan dan mengembangkan kerohanian agar dikaruniai kedekatan Ilahi.  Puasa juga merupakan suatu sarana latihan agar permohonan doa manusia menjadi makbul.

Ayat 184 Surah Al Baqarah ini memfirmankan bahwa puasa adalah ibadat yang wajib agar kaum mukminin menjadi mutaqqin; lebih mendekatkan lagi dirinya kepada Allah; dan memohon perlindungan-Nya dari segala kemudharatan. Rasulullah Saw bersabda, puasa adalah ‘tameng pelindung’.

Maka bila seorang mukmin berpuasa niscaya Allah Taala sendirilah yang akan menjadi pelindungnya, memudahkannya untuk menjauhi segala macam dosa; sebaliknya juga dimudahkan dalam beramal shalih.   Namun, semua itu menuntut syarat puasa panca-indera: Puasa pendengaran, mata, tangan, lidah, dan anggota tubuh lainnya. Jadi, tameng pelindung ini hanya akan terwujud apabila manusia memahami bagaimana memanfaatkannya.

Orang yang bermusafir atau sakit tidak diperkenankan berpuasa di bulan Ramadan, melainkan tunaikanlah manakala setelah mendapatkan kelapangan. Taqwa adalah keitaatan, bukan hanya sekedar menahan lapar. Di bulan Ramadan membaca Alqur’an dan mempraktekkannya pun sangat penting.  Di dalam Hadith Qudsi tercantum, Allah Taala menyatakan, bahwa Dia sendirilah yang menjadi ganjaran bagi orang-orang yang berpuasa.

Huzur mengingatkan kembali, ‘tameng pelindung’ puasa hanya akan menjadi kenyataan apabila orang yang berpuasanya pun melindungi hawa nafsunya dari segala pendengaran dan penglihatan yang memudharatkan. Kaum pria sangat dianjurkan untuk senantiasa ber-ghaddi basar, yakni merundukkan matanya; demikian pun bagi kaum wanita. Bila kebiasaan baik ini dapat ditanamkan sejak bulan Ramadan, niscaya akan terus berlanjut di waktu-waktu selanjutnya.

‘Puasa lidah’ maksudnya adalah menghindari segala macam bentuk ucapan yang dapat melecehkan orang lain; sesuai bunyi Hadith, ucapkanlah: ‘Aku sedang berpuasa’ [apabila ada orang yang mengajak bertengkar].

Sedangkan ‘berpuasa tangan’ maksudnya tidak melakukan sesuatu perbuatan buruk yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Misalnya seorang Muslim diharamkan memakan daging babi dan minum alcohol, namun bila ia melayani orang lain untuk itu, tentulah tidak sesuai dengan larangan tersebut.
Berpuasa akan menjadi tameng pelindung apabila orang yang mengerjakannya menjalankan segala macam yang dilarang oleh Allah Taala yang terkait dalam praktek berpuasa; sehingga ia memperoleh tarbiyat hikmah berpuasa yang melindunginya dari perbuatan munkar.

Rasulullah Saw bersabda, jika seorang mukmin berpuasa tetapi tidak menjalankan berbagai macam persyaratan tersebut, ketahuilah bahwa Allah sama sekali tidak memerlukan perut yang keroncongan. Sama sekali tidak memerlukan perut seseorang yang kelaparan.

Di dalam hari-hari yang penuh berkat ini hendaknya kita berupaya untuk memperoleh tarbiyat yang dapat kita jalankan selama hidup, mengamalkan hal-hal yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkar, sehingga dapat hidup dengan ber-’tameng pelindung’ tersebut.

Selama bulan suci Ramadan orang mukmin bukan hanya menghindari perbuatan yang dilarang, bahkan juga yang halal (makan minum, dlsb) demi mentaati perintah Allah dalam rangka tarbiyat mendisiplinkan diri. Niscaya hal ini akan menjadi sumber peningkatan kondisi rohani dan qurb-Ilahi. Di dalam ayat yang terakhir sudah dikemukakan tentang hal ini.

Terkait dengan gemblengan berpuasa selama sebulan penuh, kalam Ilahi ‘fainni-qariib’, ’sesungguhnya Aku dekat’, jelas merujuk kepada apabila kita benar-benar berusaha keras untuk mendapatkan qurb-Ilahi melalui faedah tarbiyat di hari-hari Ramadan yang berberkat ini; yakinlah bahwa Allah Swt Sendiri yang akan menjadi ganjarannya; Dia akan datang demikian mendekat.

Huzur menyampaikan sebuah kisah di dalam sebuah Hadith, pada suatu medan pertempuran yang tengah mereda, ada seorang ibu yang sibuk berlari kian kemari mencari anaknya. Bila pun ia tidak mendapati anak kandungnya, ia tetap memeluk dan menciumi setiap pemuda yang ditemuinya. Begitulah seterusnya ia sibuk berlari-lari.
Rasulullah Saw beserta para sahabat menyaksikannya dari kejauhan. Akhirnya, sang ibu tersebut mendapati anaknya sedang duduk kelelahan. Maka ibu itu pun segera memeluknya dengan penuh kasih sayang dan duduk bersamanya dengan damai.
Rasulullah Saw bersabda: ‘Lihatlah betapa seorang ibu mencari-cari anaknya dengan penuh khawatir akan keselamatannya, tak mempedulikan resiko bahaya yang dapat menimpanya, dan ketika ia menemukan anaknya, ia pun segera duduk bersamanya dengan penuh suka cita.
Tahukah kalian, Allah Taala bahkan lebih bersuka cita lagi dibandingkan sang ibu itu manakala Dia menemukan hamba-Nya yang tengah berjuang untuk memperoleh qurb-Ilahi dan dengan cara meningkatkan berbagai amal shalihnya. Huzur bersabda, maka mengapakah kita tidak berusaha untuk seperti itu ?  Seorang ibu hanya dapat memberikan rasa aman dan sentosa yang terbatas, sedangkan Tuhan kita adalah Rab-ul Alamin, Tuhan Semesta Alam, Al Malik, Yang Maha Memiliki Segala Sesuatu. Bila Dia sudah ridho dan ‘memeluk’ hamba-Nya, apa lagi yang tidak akan diperbuat-Nya ?  Oleh karena itu, [pada bulan Ramadan ini] tingkatkanlah bersujud kepada-Nya lebih daripada hari-hari sebelumnya. Merintihlah dan mohonlah pertolongan-Nya. Namun, rintihan tersebut hendaknya bukan hanya dikala butuh, melainkan benar-benar untuk memohon qurb kedekatan-Nya. Dan apakah yang dimaksud dengan memperoleh qurb-Ilahi tersebut ?       Merujuk kepada ayat 2:187, syaratnya ialah, ‘falyastajibuli wal-yu’minubi ‘, yakni hendaknya mereka mendengar seruan-Ku dan beriman kepada-Ku’. Artinya, pernyataan di mulut saja tidaklah cukup, melainkan harus dibuktikan dengan kenyataan beriman kepada Allah dan rasul-Nya yang terus meningkat. Karena inilah sebagai bukti seorang mukmin yang keimanannya paripurna. Inilah mengapa sebabnya beribadat kepada Allah senantiasa ditekankan, ialah agar kaum mukminin senantiasa berusaha untuk memperoleh kemajuan.
Bulan suci Ramadan terkait dengan rangkaian usaha dan daya upaya yang hendaknya kaum mukminin memanfaatkan sepenuhnya. Bila rintihan kaum mukminin ikhlas sepenuhnya, maka ayat ‘ujibu dawatad’daa’i', yakni ‘Aku mengabulkan permohonan doa-doamu’ pun menjadi kenyataan. Dan hal ini akan mengarahkannya ke tingkat rohani yang lebih tinggi. Makbuliyat doa-doa terkait dengan peningkatan rohani yang berkelanjutan.
Huzur membacakan beberapa ikhtisar tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang menafsirkan ayat 2:187, yakni penyingkapan bertahap tabir penghalang di antara manusia dengan Tuhan-nya pada mana di hari-hari yang berberkat Ramadan, Allah Swt memberikan kesempatan kepada kita untuk menyingkirkan tabir penghalang tersebut demi untuk memperoleh qurb-Ilahi. Maka penting untuk dihindari agar tabir penghalang tersebut jangan sampai kembali lagi manakala bulan Ramadan berakhir.
Salat dan doa adalah upaya yang nyata penting untuk menyingkirkan tabir tersebut, dan doa yang paling makbul untuk itu adalah mendoakan keunggulan agama Islam; doa agar seluruh dunia berada di haribaan bendera Rasulullah Saw.
Doa-doa semacam ini sungguh dapat menarik keridhaan Allah Swt, sehingga Dia pun memenuhi janji-Nya untuk mengabulkan berbagai kebutuhan pribadi kita. Maka kaum Ahmadi hendaknya beristiqamah dalam doa-doa mereka untuk kemenangan Islam, dan memohon agar setiap diri kita tetap teguh dalam keimanannya.
Jumah ini merupakan Jumah pertama di bulan Ramadan, di hari yang berberkat ini kita mendapatkan dua peluang yang dapat dipanjatkan kepada Allah Swt.
Sesungguhnya, di dalam Salat Jumah, ada suatu saat pada mana semua permohonan doa akan dikabulkan. Malah, sebagai tambahannya, waktu di antara Asar dan Maghrib pun ada saat tertentu doa-doa menjadi makbul. Akan tetapi dikarenakan tidak ada salat nafl di antara Asar dan Maghrib maka hendaknya diisi dengan banyak-banyak berdziqrullah.
Doakanlah juga berbagai kepahitan ujian yang tengah dihadapi oleh beberapa Jamaat di berbagai tempat. Karena hanya Allah-lah yang akan menyingkirkan segala penderitaan kita. Kita akan menyaksikan taqabuliyatnya doa-doa yang kita penjatkan, InshaAllah.
Huzur bersabda, panjatkanlah doa-doa khusus semoga Allah Swt berkenan kepada kita untuk menyaksikan kemenangan Islam dan Jamaat Ahmadiyyah semasa kita hidup.     Semoga Allah menutupi segala kelemahan kita. Semoga Allah Swt senantiasa menunjukkan jalan kepada kita, kiat untuk memperoleh qurb-Nya; dan menjadikan dambaan untuk mendapatkan qurb-Ilahi sebagai target utama kita. Kita semua memang demikian lemah, namun kita berdoa semoga kita diikut-sertakan untuk merasai janji Ilahi kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ‘Engkau telah diberi pertolongan dengan kemuliaan…’; Allah Swt pun telah menjanjikan kepada beliau a.s., barang siapa menghinakan engkau, niscaya Aku akan menghinakannya. Dan kita telah menyaksikan kebenaran hal ini. Apa yang terjadi pada diri mereka yang menghinakan beliau a.s.; namun hendaknya kita mawas diri, agar jangan sampai dikarenakan berbagai kelemahan dan kealpaan kita, pemenuhan janji-Nya tersebut menjadi tertunda.
Semoga Allah menutupi segala kelemahan kita. Sebaliknya, penampakkan kebesaran-Nya kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga diperlihatkan-Nya kepada kita.     Semoga kita dapat menjadi contoh sebagai hambanya yang sejati, baik di desa maupun di kota. Semoga berbagai kelemahan dan sikap abai kita tidak menjadikan diri kita jauh dari Allah Swt. Dan juga semoga kelemahan tubuh kita digantinya dengan fisik yang kuat agar dapat dikorbankan untuk kepentingan agama.
Huzur kemudian membacakan sebuah doa Rasulullah Saw,
“Allahumma inni as’aluka hubbaka wa hubbama yuhibbuka wal amalaladzi yubalighunni hubbaka, Allahuma ja’alhubbaka habba illa’ya min-nafsi wa’mali wa ahli wa minal maa’il barri’.  Ya Allah, hamba mohon agar diberi kecintaan Engkau, dan amal shalih yang dapat menuntun hamba untuk menarik kecintaan Engkau. Dan jadikanlah kecintaan hamba kepada Engkau melebihi kecintaan kepada diri sendiri, kepada keluarga; dan menjadi air penyejuk dahaga rohani.”
Huzur bersabda, inilah bentuk kecintaan kepada Allah yang dapat membuat setiap amal shalih kita menjadi sumber penarik keridhaan-Nya. Singkirkanlah jauh-jauh sikap egois mementingkan diri sendiri, demi lillahi Taala.     Semoga kecintaan kepada harta benda dan keluarga (63:10) tidak menjauhkan diri kita dari kecintaan kepada Allah Swt.
Huzur bersabda, hendaknya kita senantiasa berdoa seikhlasnya untuk kejayaan keimanan kita, dan juga sekaligus agar memperoleh qurb-Nya. Semua ini dapat meningkatkan ketaqwaan kita, dan setiap diri kita mampu mendengar suara ‘fainni qarib’, sesungguhnya Aku dekat’  di bulan Ramadan ini, serta menyaksikan terwujudnya ‘ujibu dawatad’daa’i', yakni’ Aku mengabulkan doa-doa mereka yang memohon’, sehingga memperoleh petunjuk hidayah.
Menasehati Jamaah, Huzur bersabda, Wahai para hamba Masih Muhammadi yang telah diperlihatkan jalan petunjuk oleh Allah Swt, yang tengah mengalami penganiayaan di berbagai negara, Dia telah memberi kalian kesempatan untuk memanjatkan doa-doa sepenuh hati di bulan Ramadan dengan merujuk kepada berbagai prasyarat yang telah diterangkan.
Bulan Ramadan ini pun merupakan Ramadan pertama di Abad Kedua Khilafat Ahmadiyah, maka dengan sabar dan doa jadikanlah Ramadan ini sebagai sarana untuk menunjukkan berbagai jalan baru; meningkatkan peribadatan yang dapat menarik kecintaan Ilahi. Kesuksesan Masih Muhammadi terletak pada doa-doa yang dipanjatkan. Dan Allah Swt akan datang mendekat dari singgasana-Nya di langit ke tujuh di bulan Ramadan, semoga Dia menarik kita ke dalam haribaan-Nya. Dan semoga pula kita dapat mengalami pemenuhan janji-janji-Nya.
o o  O o o
Please note: Department of Tarbiyyat Majlis Ansarullah USA and Jamaat BaKul takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
transltByMMA/LA090808


Komentar bertahan »

Sedemikiankah Ahmadiyah?

Assalamualaikum,,wr, wb,Tulisan salah seorang ahmadi* yg di muat di Radar Tasikmalaya, Rabu 1 Agustus 2007

Judul: Sedemikiankah Ahmadiyah?

*Vickar M. Ahmad, salah seorang jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya

Para pembaca yang budiman! Semoga kita semua berada dalam lindungan Allah SWT. Menanggapi tulisan Nandang Setiawan yang bertajuk “Menumpas Gerakan Ahmadiyah”, yang dimuat di koran ini tanggal 26 Juni 2007, saya sebagai salah satu anggota jemaat Ahmadiyah merasa berkewajiban memberikan penjelasan tentang ajaran jemaat Ahmadiyah. Semoga usaha saya bisa memberikan manfaat kepada para pencari kebenaran.

Menurut hemat saya, para aparat sudah menjalankan tugas dan kewajibannya dalam kasus jemaat Ahmadiyah di Indonesia tentang perbuatan anarkis yang dilakukan oleh pihak yang tidak menyukai keberadaan jemaat Ahmadiyah seperti pengerusakan mesjid-mesjid Ahmadiyah, kantor-kantor organisasi jemaat Ahmadiyah. Karena menurut hukum yang berlaku di Indonesia, hal itu tidak dibenarkan. Sudah jelas tentang kebebasan beragama dijamin oleh negara dalam Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas menyatakan dalam Bab XI, Pasal 29. Jadi, para aparat memihak kepada hukum yang berlaku bukan pada jemaat Ahmadiyah.

Jemaat Ahmadiyah adalah gerakan dalam Islam yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889 atau tahun 1306 Hijrah. Beliau lahir di Qadian, India, tanggal 13 Februari 1835 bertepatan dengan 14 Syawal 1250 Hj. Dan berpulang ke rahmatulloh pada tanggal 26 Mei 1908. Misi-misi dan pusat pertabligan jemaat Ahmadiyah selain didapati di Pakistan, India dan Bangladesh tersebar pula di seluruh pelosok dunia seperti di Amerika dengan Mesjid-mesjidnya di Dayton, Chicago, Washington dan beberapa kota di Canada dan lain-lain. Di benua Eropa kita dapati mesjid-mesjid Ahmadiyah di kota London, di Kota Zurich, Den Haag, Frankfurt dan Hamburg, Kopenhagen, Gotenberg, Madrid dan lain-lain.

Di benua Afrika di bagian Barat dan Timur benua itu, missi-missi Jemaat Ahmadiyah telah banyak membangun proyek-proyek pendidikan dan kesehatan. Seperti di Nigeria, Ghana, Siera leon, Gambia, Pantai gading, Kenya , Zambia, Uganda, Tanzania, Mauritius dan lain-lain. Demikian pula terdapat pusat-pusat missi dan mesjid-mesjid di Guyana, Trinidad, Suriname, Kep. Fiji, Srilanka, Malaysia, Singapore, Filipina, Jepang dan lain-lain.

Menusuk dada Dajjal dengan tombak di tengah-tengah dadanya dengan mendirikan mesjid-mesjid di tengah negara-negara Kristen oleh Imam Mahdi seperti dalam sebuah Hadist telah jadi nyata. Jemaat Ahmadiyah juga telah menterjemahkan Al-Quran lebih dari 100 bahasa di dunia supaya ajaran Islam dapat dipahami dan diamalkan oleh semua bangsa. Ahmadiyah telah mempergunakan 4 Satelit dalam berdakwah ke seluru dunia dalam sebuah stasiun televise, MTA (Moslem Television Ahmadiyya), secara 24 jam non stop terus-menerus mengenalkan keindahan-keindahan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Semua dana yang dibutuhkan untuk kegiatan dakwah Ahmadiyah berasal dari pengorbanan harta para angota jemaat Ahmadiyah yaitu sebesar 1/16 sampai 1/10 dari penghasilan masing-masing sebulan inilah salah satu tanggapan pers mingguan “Life” Amerika, 9 Mei 1955, menulis :”Belum lama beberapa lama umat Islam masih belum punya suatu gerakan teratur dan terorganisir dengan baik di bidang dakwah akan tetapi mereka dengan perhatiannya terhadap teknik dakwah misi-misi Kristen golongan Islam yang paling kuat paling dinamis dan hidup diantara semua orang Islam adalah golongan Ahmadiyah yang berpusat di Pakistan yang memililki pusat-pusat dakwah di seluruh Eropa, Afrika, Amerika dan Timur Jauh. Di beberapa daerah di mana missionary-missionary Kristen dan mubalig-mubalig Islam Ahmadiyah berlomba-lomba dalam dakwah. Maka hasil yang di capai ialah apabila seorang berhasil dimasukan ke dalam Kristen, maka sepuluh orang lainnya masuk agama Islam (Ahmadiyah)”. Majalah “Life” terbit di Amerika dengan oplah 55 juta exemplar dibaca oleh berbagai bangsa dan agama di dunia. Salah satu tugas Imam mahdi turun adalah untuk mematahkan Salib, artinya membatalkan aqidah Kristen yang telah mengimani bahwa Tuhan mempunyai anak, Isa a.s. Jemaah Ahmadiyah berkeyakinan Nabi Isa tidak wafat di atas salib tetapi wafat secara wajar di Kashmir dalam usia 120 tahun, beliau selamat dari penyaliban.

Jadi kepercayaan Nabi Isa a.s. Hidup di langit dengan jasad kasarnya oleh umat Islam umumnya saat ini secara tak sadar ikut mendukung aqidah Kristen. Lagi pula Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 144: “Dan Muhammad tiada lain melainkan seorang Rasul, sesungguhnya telah berlalu rasul-rasul sebelumnya”. Jadi maksud sebenarnya dari ayat tersebut di atas jelas sekali, bahwa rasul yang datang sebelum Muhammad Saw semuanya sudah wafat.

Kebenaran pendakwaan hadhrat mirza Ghulam Ahmad sebagai Almasihul Mau’ud dan Imam Mahdi dapat diuji dengan Al Quran Hakim dan hadist-hadist nabi Muhammmad Saw. Jika penyelidikan demikian tidak memberikan kepuasan dapat diminta petunjuk langsung dari Allah SWT dengan jalan shalat Istiharah yang dilakukan dengan khusyu dan ikhlas.

Bukankah firman Allah SWT dalam surat Al-Haqqah ayat 45-46: “Seandainya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian pasti Kami potong urat nadi jantungnya”. Menurut ayat ini jika seseorang mengaku mendapat wahyu dari Allah SWT padahal pendusta, maka Allah sendiri akan membinasakannya. Orang yang mendapat wahyu dan ilham kemudian mendakwakan dirinya sebagai nabi dan rasul ia harus hidup sekurang-kurangnya 23 tahun (dihitung sejak menerima wahyu). (Kitab Nibras halaman 444). Sejak menerima wahyu pertama (1871), hadhrat mirza Ghulam Ahmad berumur lebih dari 23 tahun (wafat 1908).

Jelaslah sudah kalau Ahmadiyah tiada beda dengan muslim dari golongan lainnya dalam cara beribadah, kami melakukan rukun Islam yang 5 dan mengimani rukun Iman yang 6. Perbedaannya, terletak pada aqidah bahwa aqidah imam mahdi atau Isa yang dijanjikan itu telah turun dalam wujud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Beliau a.s saat permulaan hanyalah seorang diri namun berkat karunia Allah, pengikut beliau a.s sekarang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Di bawah seorang Khalifah yang sekarang berpusat di London, Inggris. Jemaat Ahmadiyah memperluas propaganda dakwahnya, menyiarkan Islam ke semua bangsa di dunia. Jemaat Ahmadiyah bukanlah organisasi politik, kami semata-mata hanyalah memperjuangkan agama Islam. Missinya adalah kembali memenangkan Islam di atas semua golongan agama di dunia dan kemajuan yang diperoleh jemaat Ahmadiyah dari hari ke hari membuat kami yakin akan hal itu. Bahwa Islam sekali lagi akan mengalami kejayaan karena itu sudah merupakan janji Allah SWT dan siapa sebaik-baik pembuat janji selain Allah Swt?

Itulah sekilas mengenai jemaah Ahmadiyah yang telah di cap kafir, sesat dan menyesatkan di bumi Indonesia. Karena dorongan rasa cinta terhadap sesama manusia saya menyarankan jangan terlalu berani menyebut seseorang atau sebuah golongan dengan sebutan kafir karena dalam sebuah hadist Bukhari Nabi Muhammad saw bersabda : “Barang siapa memanggil atau menyebut seseorang itu kafir atau musuh Allah dan sebenarnya bukan demikian (yakni orang yang dipanggil itu tidak kafir dan pula musuh Allah), maka ucapan itu akan kembali kepada orang yang menyatakan (menuduh) itu. (Dan dia itu akan menerima dosa kekafiran dan dosa menjadi musuh Allah). Benarkah Ahmadiyah kafir?

Komentar (6) »