Bismillahirrahmanirrahiim
Terjemahan Summary of Friday Sermon yg disampaikan Khalifatul Masih V, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba, Imam Jama’at Muslim Ahmadiyyah tanggal 31 Oktober 2008
The Attribute of Razzaq (The Provider) and the present global Economic Crisis
Ar-Razzaq (Pemberi Nafkah/ Rezeki), Sifat Ilahi dan Krisis Ekonomi Global sekarang ini
Huzur (aba) membaca ayat-ayat ini setelahnya Surah Al Fatihah dan membukan khutbah hari Jum’at ini dengan mengingatkan kita bahwa Allah itu adalah Razzaq yakni Pemberi Nafkah. Dia itulah Yang Membuat harta kekayaan itu bertambah banyak atau berkurang. Seorang Mukmin sejati tidak pernah merasa disusahkan dengan adanya turun dan naik dalam hal rezeki ini; pada kenyataannya itulah sumbernya kemajuan dalam hal keimanannya bilamana Tuhan itu me-manifestasikan sifat-Nya dengan karunia berkah daripada-Nya.
“Apakah mereka tidak melihat, bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan menyempitkan-nya bagi siapa yang dikendaki-Nya? Sesungguhnya dalam yang demkian itu ada Tanda-tanda bagi kaum yang beriman. Maka berikanlah kepada kaum kerabat haknya dan orang miskin dan orang musafir. Yang demikian itu paling baik bagi orang-orang yang menginginkan keridhaan Allah, dan itulah orang-orang yang memperoleh kebahagiaan. Dan apa yang kamu berikan untuk memperoleh riba supaya bertambah banyak pada harta manusia, padahal harta itu tidak bertambah banyak di sisi Allah; tetapi apa-apa yang kamu berikan sebagai Zakat dengan menginginkan keridhaan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapat berlipat ganda. Allah Yang telah menciptakan kamu, kemudian membei rezeki kepadamu, kemudian Dia mematikan kamu, kemudian Dia menghidupkan kamu. Adakah dari antara tuhan-tuhan sekutumu itu, yang dapat berbuat sesuatu seperti hal itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi daripada apa yang mereka sekutukan.” (Surah Ar-Ruum (30:38-41)
Sekarang ini Krisis Keuangan telah melanda seluruh dunia. Semua bangsa-bangsa, bangsa yang maju dan yang masih berkembang semua sama-sama terjerat pada pada jaringan yang kusut ini. Beberapa Negara yang tadinya sudah menikmati kondisi ekonomi yang kuat, sedemikian rupa sehingga mereka merasa yakin dapat menguasai dunia karena mereka memiliki teknologi yang paling maju (sains, makanan, senjata, obat-obatan) di mana bangsa-bangsa lainnya akan terus dan selamanya bergantung kepada mereka untuk mempertahankan kehidupannya itu, sekarang Negara yang kuat ini melihat ekonomi mereka yang morat-marit di depan mata kepala mereka sendiri. Kebenaran dari perkara ini adalah bahwa ke-ekonomian mereka ini didasarkan atas politik yang rentan, yang sudah koleps dan yang menyebabkan krisis ekonomi global. Pengawas hakikinya hanyalah Tuhan, tetapi bangsa-bangsa yang superpower ini gagal untuk menyadari pada fakta ini.
Solusi yang mereka sodorkan untuk menyelamatkan keadaan ekonomi mereka itu tidak akan dapat bertahan lama, tidak tangguh. Solusi yang benar, terletak hanya pada mencari kedekatan kepada Tuhan dan dengan mengikuti ajaran-Nya. Sayangnya, bangsa-bangsa Muslim juga ikut terlibat dalam praktek serupa, bukannya mereka itu mengikuti petunjuk yang dituliskan di dalam Kitab Suci Alqur-aan dan bangsa-bangsa ini tidak memiliki perasaan bersalah ataupun rasa malu. Pemimpin-pemimpin dari Negara-negeri ini sungguh-sungguh sangat mementingkan diri sendiri dan hanya tertarik pada pengisian rekening bank mereka saja. Negara-negara Timur Tengah (bangsa-bangsa penghasil minyak yang besar) me-manej pembangunan infrastructure yang paling modern untuk diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menggunakan sumber daya mereka sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan, yakni untuk menolong bangsa-bangsa Islam yang lebih miskin. Malahan, mereka meng-investasikan keuntungan mereka dan kelebihan kekayaan mereka itu di Negara-negara Barat agar mereka dapat mengumpulkan uang bunganya pada simpanan deposito mereka. Di lain pihak, mereka mendirikan perbankan dengan system Islam untuk keperluan pamer di Negara-negara mereka sendiri, yang pada kenyataannya hanyalah merupakan label dengan selaput gula manis yang diberikan pada system riba yang sama dengan tidak mengikuti ajaran Alqur-aan..
Allah, Yang Pemberi nafkah/rezeki mengingatkan kepada orang-orang Mukmin untuk membelanjakan kepada keluarga dekat mereka, kepada orang-orang miskin, kepada orang-orang musafir untuk meraih ridha Allah dan kesejahteraan rohani dan materielnya juga. Seorang Mukmin hakiki tidak hanya mengeluar- kan kata-kata kosong di mulut saja, tetapi ia adalah orang yang memiliki keimanan yang teguh kepada Tuhan, Tuhan Yang menyedia-kan semua yang diperlukannya, dan ia pun, dari apa yang ia peroleh itu membelanjakannya sesuai dengan keinginan Tuhan. Dalam perkara ini, kita haruslah ingat bahwa seorang Muslim adalah saudara dari Muslim lainnya. Demikian pula, bangsa-bangsa Islam itu ada ikatan kewajiban untuk menolong bangsa-bangsa Islam lainnya yang tidak mampu, dan janganlah menanganggap pertolongan ini sebagai sedekah, tetapi adalah untuk pemenuhan kewajiban agama mereka. Bila bangsa Islam yang kaya raya memenuhi kewajiban ini, bukannya meng-investasi-kan kekayaannya di Negara-negara Barat untuk memperoleh uang bunga, maka mereka akan dapat meraih ridha Ilahi; tetapi mereka gagal mengamal-kannya sehingga mereka sekarang menderita dengan akibat buruknya dari krisis ekonomi global.
Huzur (aba) kemudian menjelaskan dengan kata-kata yang sederhana akar dari penyebab krisis ekonomi ini, dengan merujuk pada kenyataannya bahwa institusi perkreditan di Negara-negara Barat itu sebenarnya menggunakan dana yang di-simpan oleh nasabah mereka yang kaya-raya dan kemudian menawarkan uang ini sebagai pinjaman kepada orang-orang yang ingin membeli rumah dan keperluan pribadinya. Uang ini jarang sekali dipinjamkan untuk proyek-proyek yang productif, yang sebenarnya dapat membuat ke-ekonomiannya lebih kuat dengan men-ciptakan lebih banyak sumber daya. Uang pinjaman ini dikeluarkan dengan syarat-syarat yang mudah (seperti down payment yang kecil, dan dalam beberapa kasus dengan 0% deposit). Peminjam tidak ambil perhatian terhadap jumlah uang yang ia harus bayar dengan bunganya selama waktu kontrak tersebut. Dengan jumlah penghasilannya yang terbatas, di mana ia juga harus memenuhi keperluan rumah-tangganya bersamaan dengan pembayaran utangnya, maka ia mendapatkan dirinya dalam jurang utangnya yang semakin dalam, yang dalam beberapa kejadian membuat dia tidak mungkin lagi untuk membayar utangnya. Bilamana pembayaran dari nasabah itu terhenti maka bank-nya pun menghentikan kreditnya karena dananya sudah tidak tersedia lagi.
Maka hasilnya adalah krisis ekonomi global. Negeri mana pun yang menyatakan bahwa mereka tidak terkena oleh krisis ini (seperti yang dinyatakan oleh beberapa Negara-negara Timur Tengah) mereka itu membuat pernyataan bohong belaka, pertama-tama karena investasi mereka di luar negeri itu berkurang nilainya dan yang keduanya karena sumber daya alam yang dijadikan andalan mereka, seperti minyak, juga nilainya turun dengan drastisnya.. Sebuah artikel baru-baru ini berjudul “Sea of debt” menyatakan bahwa per-ekonomian Amerika Serikat sudah jatuh ke jurang yang dalam, sehingga penyelamatannya yang mudah tidaklah mungkin. Pada kenyataannya, seluruh dunia sedang berhadapan dengan keadaan situasi yang sama. Di Amerika, penggunaan kartu credit yang sangat melimpah telah merusak orang-orang terlibat dengan kecerobohan dalam pembelanjaan mereka. Sekarang karena dana itu sudah tidak tersedia lagi maka dibuat pengetatan oleh perusahaan yang mengeluarkan kartu creditnya, orang-orang terpaksa menahan dirinya untuk berbelanja. Penjualan mobil jatuh sampai titik penjualan terendah dan perjalanan dengan pesawat terbang menurun. Ini menyebabkan penurunan konsumsi BBM dan yang menyebabkan jatuhnya harga minyak mentah. Tambahan lagi, orang-orang itu lebih sedikit lagi mengerluarkan uangnya seperti untuk hiburan pribadi, yang lagi-lagi menyebabkan meningkatnya depresi (yakni kesehatan mental yang membahayakan).
Oleh karena itu Allah berfirman bahwa mereka yang menggunakan riba sebagai salah bentuk penghasilan adalah serupa dengan orang gila yang kerasukan Syaitan (Al Baqarah 2:276)
“Orang-orang yang makan riba tidak berdiri melainkan seperti berdiri orang yang syaitan merasuknya dengan penyakit gila. Hal demikian adalah karena mereka berkata, “Sesungguhnya jual-beli itu serupa riba;” padahal Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Maka siapa yang kepadanya telah sampai peringatan dari Tuhan-nya dan berhenti dari pelanggaran itu, maka untuknyalah apa yang diterimanya di masa lalu; dan urusannnya terserah kepada Allah. Dan barangsiapa kembali lagi makan riba, maka mereka adalah penghuni Api, yang mereka akan tinggal lama di dalamnya.”
Di tempat lainnya, Allah telah menyatakan bahwa riba itu adalah “haram”. Menggunakan uang riba dapat menyebabkan seseorang jatuh pada sebuah lingkaran syaitan, yang membuat orang itu sangat sulit untuk dapat melepaskan diri dari kemelut ini. Huzur (aba) menceriterakan satu lelucon dalam perkara ini: “Jika tetangga saya kehilangan pekerjaannya, yang demikian namanya recession. Jika saya kehilangan pekerjaan saya, itulah depression.” Lelucon ini hanya merujuk pada situasi global yang sedang morat-marit, di mana ribu-ribuan orang telah kehilangan pekerjaannya. Huzur (aba) mengingatkan dengan kata-kata yang keras, mengatakan bahwa jika ada sedikit saja cercah yang tinggal pada kalian, meninggalkanlah penggunaan uang riba. Melainkan, investasikanlah dalam perdagangan yang diizinkan secara Islam, dan menyarankan agar bangsa-bangsa Islam harus memberi contoh di dalam hal ini.
Huzur (aba) kemudian memberikan contoh negara-negara seperti Pakistan dan bangsa-bangsa Afrika lainnya, di mana para pemimpin negara-negaranya itu sangat korup dan tidak loyal kepada negaranya, yang menambah-nambah minyak pada api ini. Bangsa-bangsa ini hanya dapat hidup dengan uang pinjaman dari Negara-negara yang lebih kaya, tetapi tidak punya jalan bagaimana caranya agar utang ini dapat terbayar. Negara-negara ini sebenarnya diberkati dengan sumber daya alam, tetapi sudah menjadi praktek yang memalukan untuk lagi-lagi meminta-minta dana lagi. Kenyataannya dari perkara ini ialah bahwa mereka itu telah melupakan ajaran dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang dapat menyebabkan azab Tuhan yang lebih besar lagi. Huzur (aba) mengatakan bahwa system riba/ uang bunga itu telah membuat jurang yang lebih besar lagi antara orang kaya dan orang-orang yang miskin, tetapi system dari Islam, yaitu system Zakat menciptakan kerukunan di antara para anggota masyarakat.. Huzur (aba) menasihatkan agar setiap orang itu, terutamanya orang-orang Muslim harus menghentikan diri dari melakukan pinjaman, hal ini akan dapat menjauhkan krisis ekonomi yang dapat berulang kembali pada setiap beberapa tahun.
Dalam ayat-ayat yang dibaca pada awal khutbah ini, Huzur (aba) mengingat bahwa Allah itu tidak hanya menciptakan kita tetapi juga menyediakan nafkah untuk mahluk ciptaan-Nya, dengan syarat bahwa kami mengikuti perintah-perintah-Nya. Ke-tidak-stabilan dan ke-putus-asaan serta perasaan tidak lama lagi akan terjadinya perang yang ada di dunia ini sebagai akibat dari kekayaan dunia ini hanyalah berputar-putar di antara orang-orang yang kaya yang jumlahnya tidak banyak sedangkan orang-orang yang tidak mampu hanya memandanginya saja dari jauh, tidak pernah mendapatkan bagiannya yang terjamin bagi mereka itu. Penyebab lainnya hancurnya kedamaian dunia ini juga berasal pada kenyataannya bahwa bangsa-bangsa yang lebih kaya itu selalu mengincar sumber daya alam dari Negara-negara yang belum maju untuk digunakan bagi kepentingan dirinya sendiri. Tradisi Islam mengutuk keras hal ini. Huzur (aba) mengatakan bahwa dunia harus mengerti peraturan dan ketentuan emas yang berikut ini untuk dapat menghentikan krisis ekonomi yang demikian itu:
1. Belajarlah untuk tetap berada dalam batas kemampuan sendiri, yaitu pada masing-masing perorangan individu dan pada tingkat nasional. Puaskanlah hati dengan apa yang kalian dapat peroleh dengan mudah dan janganlah silau dan terpesona dengan rumah-rumah dan mobil yang besar dengan memaksakan diri menggunakan fasilitas pinjaman kredit.
2. Berhentilah dari uang bunga atau riba.
3. Negara-negara kaya harus menghindarkan diri dari usaha untuk menguasai dan mengendalikan sumber daya alam dari Negara-negara lainnya. Negara-negara yang kurang-mampu harus memiliki kepercayaan pada diri sendiri bahwa sumber daya yang mereka miliki hanyalah untuk kepentingan negeri mereka sendiri, walaupun jika ada campur-tangan international.
4. Para pemimpin bangsa haruslah setia dan patrotik terhadap Negara mereka.
5. Hak-hak dan kewajiban bagi oang-orang miskin harus dipenuhi.
Aturan dan ketentuan ini adalah didasarkan atas ajaran Islam, oleh karena itu bahwa Islam-lah yang dapat menyajikan solusi yang paling tepat terhadap krisis yang dihadapi oleh dunia dewasa ini. Huzur (aba) mengatakan bahwa ketakwaan itu merupakan keharusan jika kalian ingin mendapat kesejahteraan. Tidak akan ada keselamatan jika kita tidak menaruh perhatian pada Firman Tuhan dan mempercayai kepada Imam zaman ini. Huzur (aba) membacakan tulisan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di mana beliau mengingatkan kita untuk selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa bahwa Tuhan telah membukakan kepada kita cahaya nur yang amat sangat kita perlukan untuk keselamatan kami dewasa ini dan di zaman ini. Huzur (aba) mendoakan semoga Allah Taala membimbing dunia ini pada jalan yang lurus yang benar dan memberikan kemampuan lepada mereka semua untuk dapat mengamalkan ajaran Islam yang hakiki, Aamiinn. (Penterjemah: PPSi / Mersela, 28-11-2008)